INDONESIA - CHINA: KONFLIK LAUT CHINA SELATAN

Ringkasan

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan bahwa Indonesia telah menyerukan agar pihak-pihak yang terlibat ketegangan di Laut China Selatan untuk saling menarik diri dan menjaga stabilitas dan perdamaian.

Selain itu, Indonesia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan kerja sama di kawasan. Hal itu disampaikan Retno saat dirinya menghadiri pertemuan Informal ASEAN Ministerial Meeting, jelasnya melalui video conference, Rabu (24/6/2020).

"Untuk situasi Laut China Selatan, Indonesia melihat terdapat tiga hal yang perlu mendapatkan perhatian. Hal yang pertama adalah mengenai rivalitas antara kekuatan besar di laut China Selatan. Dalam hal ini Indonesia menyampaikan bahwa penting bagi ASEAN untuk terus mengirimkan pesan kepada semua pihak agar berkontribusi bagi stabilitas dan perdamaian di laut laut China Selatan." kata Retno.

"Kolaborasi dan kerjasama harus selalu dikedepankan. Bukan rivalitas."

"Sekali lagi ingin saya sampaikan bahwa Indonesia bukan merupakan negara claimers. Dalam hal ini tentunya negosiasi di antara negara claimers menjadi kunci. Selain itu, Indonesia juga mendorong agar negosiasi COC/Code of Conduct yang terhenti karena pandemi, juga sudah waktunya dimulai lagi karena kita meyakini bahwa COC akan berkontribusi dalam penciptaan kondusif environment di Laut China Selatan.Lebih lanjut, Retno mengatakan ia juga membahas soal penyelesaian klaim di antara negara claimers.

"Hal yang ketiga yang kita sampaikan adalah mengenai klaim nine dash line. Indonesia menyampaikan bahwa ASEAN penting untuk menunjukkan soliditas mengenai penghormatan prinsip-prinsip hukum internasional termasuk UNCLOS 1982, termasuk lagi mekanisme yang diatur di dalam PCA." terangnya.

Pernyataan itu disampaikan Retno di saat situasi Laut China Selatan sedang panas-panasnya, di mana militer Amerika Serikat (AS) dan China terus meningkatkan kehadiran di kawasan yang disengketakan banyak negara itu.

Sebagaimana disampaikan Institut Nasional Studi Laut China Selatan dalam laporannya, tingkat kehadiran militer AS di kawasan telah meningkat tajam sejak Presiden Donald Trump menjabat sejak 2016.

Menurut think tank pemerintah itu, AS telah mengerahkan 375.000 tentara dan 60% dari kapal perangnya di kawasan Indo-Pasifik. Tiga kapal induk AS telah dikirim ke wilayah tersebut.

Intensitas kehadiran kapal militer AS di wilayah yang disengketakan itu telah memicu amarah China. Militer negara itu telah berulang kali mengusir kapal-kapal AS dari berbagai perairan yang diklaimnya tersebut.Jumlah operasi navigasi kapal-kapal AS di kawasan di bawah kepemimpinan Trump juga jauh lebih banyak dari saat era mantan presiden Barack Obama. Hanya ada empat operasi navigasi kapal AS di Laut China Selatan selama delapan tahun masa jabatan Obama, dibandingkan dengan 22 operasi navigasi di bawah pemerintahan Trump sejauh ini.

Namun demikian, kapal-kapal AS terus saja melakukan operasi, dengan alasan bahwa klaim China menyalahi hukum internasional dan mereka perlu memastikan keamanan dan kebebasan kawasan.

Sayangnya, Presiden Institut Nasional Studi Laut China Selatan Wu Shicun mengatakan aksi AS itu bisa meningkatkan peluang militer negara itu terlibat 'perang' dengan China.

"Pengerahan militer AS di kawasan Asia-Pasifik belum pernah terjadi sebelumnya," kata Wu saat mempresentasikan laporan tersebut, mengutip AFP.

"Kemungkinan insiden militer atau lepasnya tembakan yang tak disengaja telah meningkat," tambah Wu. "Jika krisis meletus, dampak pada hubungan bilateral akan menjadi bencana besar."

(Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/news/20200624163523-4-167752/as-dan-china-konflik-di-laut-china-selatan-ini-pesan-ri)




Ketegasan Indonesia Membuat ASEAN Lebih Bergigi Soal Laut China Selatan

Laut China Selatan. Indonesia Tolak Tawaran Negosiasi China Terkait Batas dan Hak Maritim

Laut China Selatan: AS sebut ‘BUMN China serupa dengan VOC’, Indonesia minta semua pihak menahan diri



Sengketa Teritorial. China dan AS Semakin Intensif Latihan Militer di Laut China Selatan

Tajuk Rencana. Tegas di Laut China Selatan

Tunda Pembahasan ”Omnibus Law” di Masa Darurat Covid-19

Tunda Pembahasan ”Omnibus Law” di Masa Darurat Covid-19

ASEAN, the Declaration on Conduct, and the South China Sea

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org Dokumen tersedia di Perpustakaan

China in the Pacific and Traditional Powers’ New Pacific Policies: Concerns, Responses and Trends

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan

Conflict and Diplomacy in the South China Sea

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan

COVID-19 The Pandemic and its Impact on Security Policy

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org Dokumen tersedia di Perpustakaan

Getting Serious About Strategy In The South China Sea

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan


Perspectives for a China Strategy

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan

Retrieval and Analysis of Sea Surface Salinity in the Adjacent Waters of the Yangtze River Estuary Based on Multisource Satellite Data

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan



Territorial Disputes in the South China Sea Implications for Security in Asia and Beyond

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan

The Law Of The Sea Regime In Northeast Asia: Issues And The Way Forward

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan

The Militarisation of China in the Pacific: Stepping Up to a New Cold War?

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org Dokumen tersedia di Perpustakaan

The Nine-Dash Line In The South China Sea: History, Status, And Implications

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan

The South China Sea Conflict And Sino-Asean Relations: A Study In Conflict Prevention And Peace Building*

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan

The South China Sea Issue: A Critical Appraisal of China’s Geo-Economic Strategy

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan

The U.S.-Japan Security Alliance, Asean, And The South China Sea Dispute

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org Dokumen tersedia di Perpustakaan

Who Wants to Be A Great Power?

E-Resources  

Unduh

https://www.jstor.org/ Dokumen tersedia di Perpustakaan

Konflik Laut China Selatan dan Implikasinya Terhadap Kawasan

Diplomasi poros maritim Indonesia

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 tentang Pengesahan Persetujuan Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik China tentang Kerja Sama Aktivitas dalam Bidang Pertahanan

Komisi I DPR Setuju Perkuat Pertahanan Laut China Selatan

Hak Cipta © 2020
Bidang Sistem Informasi dan Infrastruktur Teknologi Informasi - Pusat Teknologi Informasi - Sekretariat Jenderal DPR RI | Design by W3layouts